Selasa, 06 Maret 2018

Pake iPhone artinya gengsi: Nggak juga

Sebagian pengguna smartphone pasti kenal dengan Apple yang logonya berlambangkan buah apel digigit. Produk yang satu ini memang terkenal. Saya pernah baca, sebagian orang kasih komentar kalau yang pake iPhone entah itu artis, bos, pengusaha, mahasiswa dsb dibilangnya gengsi. Menurut saya nggak juga.

Produk Apple memang sejak awal diciptakan secara eksklusif, premium, artinya memang tidak semua orang bisa memilikinya lantaran harganya mahal mahal sekali. Tapi kalau Anda pernah sekali mencoba, ada yang mungkin nggak suka, pakai sebentar, kembali ke Android, tapi ada juga yang ketagihan, suka. Bos saya dulu pernah bilang sekali pake iPhone pasti péngén terus. Ada benarnya juga, tapi tidak semua pengguna begitu.

Saya contohnya. Pertama pakai iPhone langsung coba 5s, 2016. Pakai selama berapa bulan kemudian saya jual karena ada keperluan, terus beli lagi waktu 2017, tipe yang sama, iPhone 5s, hanya beda warna.

Saya akui bahwa ini produk Apple yang saya pakai waktu itu sangat mantap. "Tahun 2017 masih pake hp layar 4 inci?" Mungkin begitu kalau orang bilang. Tapi kalau Anda (tergantung dari Anda juga) pernah coba pakai iPhone (tentunya jangan tipe lama), pasti ada kesan yang membekas.
Layar boleh kecil, memang untuk 2017 kurang greget, tapi performa, dukungan software, layanan Apple, aplikasi/game, bagus banget.

Pertama, kesan saya pakai iPhone 5s (saya masih ingat ketika kerja di Kedoya tahun 2013, bos-bos pakai iPhone 5s semua, bahkan karyawan bagian produksi, finance, pakai iPhone 5s juga, waktu itu kita tahu bahwa harganya mahal sekali), desain simpel, compact, terus materialnya berkualitas, berbobot. Performa bagus sekali, jarang sekali ditemui yang namanya lag. Kalau buka aplikasi agak lambat, menirut saya wajar, prosesornya udah tua untuk digunakan di tahun 2017, ditambah lagi aplikasi selalu diperbarui. Pengalaman mengetik (texting) sangat bagus, meski kecil kalau sudah terbiasa jadi cepat mengetiknya, Appstore, tersedia banyak sekali game/aplikasi, keamanan baik sekali, bisa diset tiap mau instal aplikasi harus masukkan password (di Google Play Store tidak ada). Dukungan dari Apple sangat baik, Twitter dijawab, live chat dibalas, bahkan untuk kendala tertentu, Apple customer care tidak akan segan menelepon pelanggan secara langsung ke nomor pengguna. Kameranya ini bagus sekali, bahkan kalau saya bandingkan dengan Vivo V5, masih lebih baik iPhone 5s.

Dari berbagai macam kelebihannya itulah yang membuat sebagian pengguna penyuka Apple akan terus pakai iPhone. Bagi pengguna loyal, tentunya bukan harga yang dilihat, tapi sistem dan layanan si Apple sendiri. Jadi, bagi saya, seseorang pakai Apple belum tentu dia gengsi, ikut-ikutan, tapi ada nilai yang menurut dia berbeda dibandingkan Android.

Senin, 05 Maret 2018

Smartphone yang sebaiknya jangan dibeli: Untuk tahun 2018

Vendor smartphone terus menerus merilis produk-produk andalannya ke pasar untuk menggaet pelanggannya. Sebagian dari mereka mengeluarkan ponsle flagship, sebagian lagi mid end. Saya sudah lebih dari 11 kali ganti smartphone, mayoritas yang saya pakai itu Android. Berikut ini pilihan-pilihan smartphone yang menurut saya sebaiknya jangan dibeli:

1. Huawei P8lite
Saya sudah pernah pakai, sangat tidak rekomendasi sekali. Dalam beberapa bulan P8lite akan mengalami masalah hardware. Dan itu tidak ada solusinya selain ke service center. Masalah hardware tersebut adalah WiFi, Bluetooth dan GPS, tiga-tiganya tidak mau berfungsi. Opsinya ada tapi warna kelabu, tidak bisa diklik. Meski format/reset, update software, tetap penyakitnya tidak akan hilang, pasti akan muncul terus. Harus dibawa ke tempat servis guna ganti motherboard. Kalau masih masa garansi gratis, tapi bila tidak ada garansi lagi, biayanya Rp1,375 juta. Bayangkan, lebih baik beli ponsel baru bukan?

2. Sony Xperia Z C6602
Sebenarnya gejala di ponsel ini tidak seberat Huawei P8lite. Tapi bisa mengganggu, saya pernah sekali pakai Xperia Z C6602 ini (model ini tidak mendukung 4G). Masalah yang di ponsel ini yang saya temui itu yang pertama, kamera utamanya (rear camera). Setelah kamera utama diaktifkan akan terlihat ada bintik-bintik kecil hitam di kamera, saya nggak tahu apa, yang jelas update software/downgrade software tidak akan menghilangkan bintik-bintik tersebut. Yang kedua, earphone malfunction, artinya earphone tidak berfungsi (kalau kita menelepon seseorang, kita tidak bisa mendengar suara apapun, tapi orang yang di sana bisa mendengar suara kita). Ini sebenarnya bisa dikurangi gejalanya, asalkan tidak menekan bagian dekat earpiece-nya, kemudian instal aplikasi SoundAbout Pro. Ubah pengaturan pada audio elepon menjadi earpiece. Selama tidak menekan earpiece, masalah tak ada suara bisa diatasi.

3. Android dengan RAM di bawah 2 GB
Untuk yang nomor 3 ini penting. Aplikasi yang semakin update, akan menuntut kinerja ponselnya bagus juga dan kuat berjalan. RAM 1 GB, 1,5 GB, sudah nggak bagus lagi. Bahkan rekomendasi saya sebaiknya di atas 2 GB. Minimal 3 GB. Untuk 2 GB pemakaian saya sehari-hari masih menemukan kadang ada lag-nya.

4. Windows Phone, BlackBerry 10
Dua OS ini sudah hampir punah saya bilang. Windows Phone terakhir hanya merilis Lumia 950 XL yang berbasiskan Windows 10 Mobile, tidak berkembang. Begitu pula BlackBerry 10, ini sudah mau dipunahkan juga, BlackBerry sekarang fokusnya ke Android. Aplikasi di BlackBerry World saja sudah nggak update, aplikasi Gojek tidak ada, Grab tidak update. Itu contohnya.

5. Ponsel iPhone 4 dan smarpthone yang belum mendukung 4G LTE
Kalau Anda pungguna smartphone, sebaiknya pilih yang sudah mendukung 4G LTE. Operator seluler sudah berlomba-lomba mengejar 4G LTE. Kalau ponsel yang dipakai  masih mendukung 3G saja, bisa dibayangkan, ada banyak kuota yang tidak akan digunakan. Untuk iPhone 4 sudah terlalu lama, sebaiknya iPhone 5s, karena masih menerima dukungan iOS 11.


Skor Benchmark Smartphone: Semakin tinggi cenderung









Skor AnTuTu. Siapapun yang menggunkan ponsel Android hampir tahu pasti mengenai aplikasi satu ini. Aplikasi AnTuTu digunakan untuk mengukur kinerja ponsel untuk mengetahui seberapa cepat ponsel tersebut. AnTuTu mengukur CPU, GPU, RAM, kecepatan. Beberapa smartphone Android yang punya spesifikasi tinggi biasanya cenderung punya skor AnTuTu yang sangat tinggi dan memang biasanya performanya sangat baik. Untuk Moto Z Play saya tes dapat skor 75.681 dengan versi Android 7.1.1. Lumayan tinggi, waktu pakai Asus Padfone saja cuma 40.000-an. Untuk Vivo V5 setahu saya tidak sampai mendekati Moto Z Play (pastinya saya lupa).

Terlihat di gambar di atas, Huawei Mate 10 Pro menempati ranking pertama skor AnTuTu, spesifikasinya saja sangat tinggi. Tapi, AnTuTu hanya alat pengukur seberapa cepat kinerja suatu ponsel, tidak bisa dijadikan patokan sesungguhnya. Bagi saya untuk ukuran mid end, kinerjanya cukup bagus.


Minggu, 04 Maret 2018

iPhone: Dari iPhone hingga iPhone X, tak pernah ada slot memory card






Dari dulu hingga sekarang, iPhone tidak pernah mau buat slot kartu memori microSD. Mungkin dari sekian pengguna ada yang berpikir, kenapa demikian. Saya pernah pakai iPhone, 2 kali, tapi tipe yang sama, iPhone 5s 16 GB. Sisa memori awal-awal , free 9 GB. Masih cukup sih, kalau nggak banyak simpan file, foto, video, musik dan aplikasi/game. Tapi kenapa Apple tidak mau buat slot microSD? Dari yang saya baca-baca, dan saya pikir, benar juga alasan berikut ini:

1. Alasan profit
Apple biasanya kasih opsi pilihan memori pada iPhone, seperti iPhone 8, ada yang 64 GB, ada juga yang 256 GB. Pengguna yang mau memori lebih banyak, disarankan pilih yang 256 GB. Pengguna setia Apple, suatu saat ia akan upgrade iPhone ke memori yang lebih tinggi. Dengan upgrade, artinya pengguna harus membayar 1 buah smartphone yang lebih mahal, ini artinya Apple dapat untung lebih dibandingkan kalau ia menciptakan slot microSD. Fans Apple suatu saat akan berbondong-bondong beli iPhone dengan kapasitas memori lebih besar, karena tuntutan aplikasi yang semakin alam semakin besar kapasitasnya dan juga gaya hidup dan kebiasaan pemakaian dari pengguna Apple. Oleh karena itu tidak heran keuntungannya juga besar.

2. Menambah memory card di iPhone hanya memperlambat kinerja
Menurut saya ini juga ada benarnya. Saya pernah pakai Nokia Lumia 520 selama 9 bulan. Saya pernah perhatikan (setelah diberitahu teman), saat Lumia 520 tanpa microSD, buka aplikasi musik bawaan, daftar musik yang ditampilkan keluar lebih cepat dibandingkan dengan saat Lumia 520 dipasang microSD. Dengan berpegang teguh pendirian tanpa slot microSD, Apple juga menjaga desain smartphone tetap unik dan kinerjanya agar bisa cepat

3. Strategi bisnis Apple
Pengguna 'dipaksa' untuk berhadapan dengan terbatasnya memori pada smartphone iPhone, bila pengguna membeli iPhone 7 32 GB misalnya, memorinya masih kurang, maka tersedia iCloud (free 5 GB) yang memmungkin penggunanya untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi lebih tinggi, dan itu harus bayar (di opsi iPhone 5s saya waktu itu Rp15.000 / bulan upgrade jadi 100 GB). Jadi pengguna dibuat agar loyal kepada Apple, menggunakan iPhone pasti akan membeli layanannya juga. Melalui sistem iOS yang tertutup, Apple membuat sistem terbaiknya, dengan dukungan Appstore yang memuat aplikasi-aplikasi yang bagus, iTunes, pengguna loyal biasanya banyak beli layanannya, entah itu beli aplikasi/game, musik.




Root Android: Saya cuma coba sekali waktu pakai Sony Ericsson

Sejak 2012 awal saya pakai Android, dan pada waktu itu saya juga tahu namanya root. Root sama dengan memberikan akses masuk pada smartphone untuk melakukan pengubahan tertentu. Pengubahan ini bisa berupa hapus aplikasi bawaan, ubah tampilan theme homescreen, dan lain-lain.

Banyak pengguna smartphone melakukan root hanya untuk memodifikasi, entah itu berupa tampilan, sistem maupun yang sekedar instal aplikasi/game yang seharusnya harus berbayar menjadi gratis. Dengan root juga, pengguna bisa memaksimal smarpthone-nya, seperti yang tadinya misalkan memorinya sesak jadi berkurang atau yang tadinya agak lemot, jadi berkurang.

Dari yang saya baca di internet, melakukan root pada smarpthone Android itu akan membuat smartphone tersebut jadi rentan terkena virus atau malware. Ada benarnya juga karena yang tadinya sistemnya tertutup dijadikan terbuka, jadi lebih besar risikonya. Saya sendiri sih belum pernah alami seingat saya (jangan sampailah ya), tapi pernah sekali saat scan dengan antivirus, ditemukan file yang mencurigakan.

Saya melakukan root waktu 2012 itu pada smartphone Sony Ericsson Xperia mini (ST15i). Hal tersebut saya lakukan karena memang ada masalah pada ponsel tersebut. Layar sentuhnya kadang menolak eksekusi (di internet, problem ini disebut overheating). Saya nggak bisa ingat waktu itu memang panas atau nggak, yang jelas, ST15i alami overheating. Setelah saya cari tahu solusinya di internet, cara mengatasinya harus melakukan root dan instal Gscript. Waktu itu juga saya root smarpthone lihat tutorialnya dulu di internet. dan hasilnya berhasil, problem hilang. Nah, bagi saya root kurang ada manfaatnya. Lagipula saya kurang suka dengan memodifikasi ponsel. Setelah ganti smartphone bahkan hingga sekarang, tak ada root lagi. Bagi saya RAM 3 GB atau 4 GB meski tampilan terlihat sederhana, tetap bisa diandalkan untuk berbagai keperluan. Asalkan tidak ada kendala, tidak ada masalah seputar software / hardware yang membandel, tidak ada lag yang mengganggu, itu sudah cukup

Sabtu, 03 Maret 2018

Pure Android/Stock Android: Tanpa bloatware




Dari sekian Android yang saya pakai, baru satu smartphone di Moto Z Play yang saya pakai ini yang menggunakan pure Android/Android murni. Kesannya? Bagus, tidak ada bloatware (aplikasi bawaan yang biasanya ditanamkan dari vendor, misalnya di ponsel Samsung Galaxy ada yang namanya Samsung Apps, S Health), kemudian cepat, tampilan sederhana, mayoritas background menu aplikasinya putih. Aplikasi yang ada bisa di-scroll ke bawah untuk melihat keseluruhan aplikasi.

Ya, bagus sih, cuma kelihatan sederhana saja, background putih jadi ciri khasnya. Memori intrenal juga lebih lega dibanding yang bukan pure Android. Lebih cepat dapat update software (tapi Moto Z Play ini belum dapat update Android Oreo), tidak ada iklan-iklan, Itu beberapa kelebihannya. Sebagian besar aplikasinya ini serba dari Google, semisal Calender, Messenger, Google Photos, Docs/Sheet/Slide, Contacts, dsb.

Sejauh ini Motorola Moto Z Play belum kendala. Oh ya, pernah alami satu kendala di mana aplikasi kamera bawaan tidak mau buka (kadang tampil layar gelap) dan ada keterangan "restart apps". Penyakit itu saya temukan di versi Android Marshmallow, setelah update ke Android Nougat 7.0 sampai 7.1.1, tidak muncul lagi gejala tersebut.

Tidak banyak smarpthone Android yang menggunakan pure Android, untuk Moto Z series salah satunya yang memakai Android murni. Untuk smartphone kelas atasnya ada Googe Pixel. Menurut saya tampilan tidak akan berbeda, hanya beda spesifikasinya saja. Lagipula untuk ukuran Android murni dengan RAM 3 GB, sebenarnya sudah cukup untuk kebutuhan browsing, sosial media, game. Untuk lebih baiknya sih memang RAM 4 GB yang rekomendasi.  Kita lihat saja, siapa tahu suatu saat Google Pixel harganya turun atau ada smarpthonr brand lain dnegan spesifikasi tinggi tapi menggunakan pure Android.

Kartu Seluler Prabayar dan Pascabayar: Dua-duanya bagus tapi saya lebih memilih pascabayar




Saya sudah menjadi pelanggan prabayar salah satu operator besar sejak 2012, berarti sudah hampir 6 tahun dan saya juga pengguna kartu pascabayar salah satu operator besar juga. Bagi saya dua-duanya bagus, tapi sejak 2017 saya lebih suka kartu seluler pascabayar

Kartu seluler prabayar itu bagus, sudah lama saya pakai, untuk ponsel jadul sampai smartphone Android/iPhone, bahkan tiap bulan juga berlangganan paket internet. Selama waktu itu, belum ada kendala, kalau semacam kendala SMS nyasar, SMS penipuan, pulsa hilang, itu menurut saya hampir semua konsumen pernah alami. Keteledoran sendiri juga pernah, seperti lupa perpanjang paket data sehingga pulsa lenyap Rp5.000, Rp90.000, sudah pernah dialami.

Kalau biasanya kartu prabayar itu konsumen akan membeli pulsa untuk dibelikan paket data atau membeli paket data entah di konter, online, ATM, di kartu pascabayar justru tidak perlu lelah seperti itu lagi, konsumen pascabayar tinggal membayar tagihan yang muncul setiap bulannya, untuk paket data akan otomatis diberikan (biasanya awal bulan), habis tidak habis akan refresh lagi tiap bulan. Di kartu prabayar pulsanya dinamankan pulsa, di kartu pascabayar disebut limit. Mirip dengan pulsa, bila paket data habis, maka di kartu prabayar akan mengurangi pulsa. Sedangkan untuk pascabayar akan mengurangi limit bila paket data habis.

Cukup lama saya mempelajari kartu-kartu pascabayar sebelum benar-benar beralih ke pascabayar. Peralihan saya waktu itu dinamakan migrasi, dari prabayar ke pascabayar, nomornya tetap sama, hanya status dan paketnya berubah. Proses migrasi terbilang singkat waktu itu, tidak sampai 12 jam. itupun saya ditawari SMS terlebih mengenai promonya. Setelah saya yakin, saya memberanikan diri untuk migrasi ke pascabayar.

Nah, berikut yang biasanya dipermasalahkan oleh sebagian konsumen mengenai kartu seluler pascabayar dan berikut pengalaman saya menggunakan pascabayar

1. Kartu pascabayar mahal
   Belum tentu. Kalau konsumen pakai kartu prabayar, tapi dalam sebulan pengeluaran di atas Rp100 ribu, itu bisa disebut mahal juga. Untuk pascabayar, konsumen bisa memilih paket yang terjangkau, misal paket silver, paket basic. Memang kalau dibandingkan dengan prabayar, konsumen pascabayar tidak bisa memilih paket yang lebih rendah lagi. Semua operator seluler juga ada batasan rendah dan tingginya. Mungkin tidak terbiasa saja bila bagi yang baru pertama kali mencoba pascabayar. Kartu pascabayar tidaklah mahal, konsumen membayar apa yang dipakai, itu saja.

2. Kartu pascabayar ribet, ditagih terus
   Ribet? Tidak juga. Kalau ditagih, sudah pasti. Selama saya memakai kartu pascabayar (belum 1 tahun) tidak ada kendala, bahkan saya mau bilang di pascabayar justru saya jarang terima telepon penawaran entah kartu kredit atau KTA (tapi kalau nomor pascabayar dijadikan nomor internet banking untuk kartu kredit, itu bisa saja terjadi, karena bank biasanya kerja dengan lembaga keuangan lain). Untuk tagihan, itu muncul tiap bulan, seperti saya sebutkan di poin 1, bahwa konsumen membayar apa yang dia beli/pakai. Kalau penggunaanya Rp100.000 ya bayarnya Rp100.000 juga tapi belum termasuk PPN. Simpel sebenarnya, tidak perlu isi pulsa, pergi ke konter beli pulsa, beli paket data. Kini via aplikasi operatornya masing-masing, sudah bisa beli paket. Untuk menjadi pelanggan pascabayara sekarang bisa migrasi dari prabayar ke pascabayar tapi tidak untuk smeua kartu prabayar bisa begitu. Atau bisa juga datang ke gerai operatornya masing-masing. Untuk nomor pascabayar baru itu harus datang ke gerainya dan untuk nomor pascabayar yang terdiri dari 10 nomor, salah satu operator yang saya ketahui mewajibkan untuk berlangganan selama minimal 1 tahun. Nggak ribet juga, itu memang sudah ketentuan operator

3. Untuk menjadi pelanggan kartu pascabayar harus punya kartu kredit
   Tidak wajib! Saya migrasi dari prabayar ke pascabayar tidak pakai kartu kredit. Tapi suatu hari kemudian saya buat kartu kredit agar tagihannya bisa dibayar secara autodebet. Kartu kredit itu tidak harus punya untuk menjadi pelanggan pascabayar, asalkan paket yang dipilihnya paket basic atau paket yang rendah. Kalau paket yang menengah atau atas, itu biasanya operator seluler pasti mensyaratkan kartu kredit apalagi untuk seperti bundling atau yang bisa membeli samrtphone dnegan harga sangat murah bahkan yang Rp1, itu sudah pasti wajib kartu kredit

4. Jadi pelanggan pascabayar tagihan suka bengkak
  Saya jawab, tidak juga, tergantung konsumennya. Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa konsumen membayar apa yang ia pakai dan sebesar yang ia beli/pakai. Selama konsumen bila mengendalikan pemakaiannya, maka tagihannya juga akan wajar. Selama ini, pemakaian kartu pascabayar saya juga wajar-wajar saja.

5. Kayak orang penting atau merasa gengsi, sehingga harus pakai kartu pascabayar
    Yang ini sih kembali ke konsumen yang bersangkutan. Saya sendiri tidak merasa gengsi, bagi saya kartu pascabayar memudahkan saya saja, paket yang tersedia cukup menarik, ada gratis telepon, SMS, pemberian kuota data sekian tiap bulan dan saya tidak perlu sering-sering isi pulsa. Selain itu jarang ada SMS aneh-aneh yang masuk, itu pengalaman saya. Jadi, untuk apa gengsi, sama saja kok, hanya beda penerapan saja

Tentunya, ini semua kembali ke konsumen, ingin pakai kartu prabayar atau pascabayar, semua ada kelebihan dan kekurangan.






Smartphone Baru Bermunculan Terus: Daya beli masyarakat menurun

Siapapun tahu bahwa perkembangan teknologi tidak akan bisa dibendung, teknologi dan inovasi baru terus berkembang. Begitulah yang terjadi pada perponselan. Dari waktu ke waktu, vendor selau berlomba-lomba memperkenal produk-prouk baru mereka, dari memori yang tinggi hingga dual kamera sampai AI (ariticial intelligence).

Ajang perhelatan MWC 2018 di Barcelona sudah memperkenalkan produk-produk baru, sebut saja Samsung Galaxy S9 dan S9+ yang jadi perhatian. Tidak hanya memori yang ditingkatkan tapi juga kameranya. Nah, dengan berbagai macam produk baru bermunculan, apakah konsumen lantas pasti membeli produk-produk tersebut? Belum tentu.

Dari hasil riset pasar BayStreet Research saja, menunjukkan siklus konsumen mengganti ponsel lama ke ponsel baru di USA jadi makin lama, yang tadinya 23 bulan di tahun 2014 menjadi 31 bulan sekarang. Maka dari itu tidak mengherankan juga bahwa tren pertumbuhan penjualan smartphone cenderung menurun. Suatu lembaga riset pasar Gartner melaporkan bahwa pada kuartal 4, 2017, penjualan smartphone dunia mengalami penurunan untuk pertama kali sejak tahun 2014.

Konsumen juga makin menahan diri untuk beli smartphone baru. Smartphone lamanya masih dipertahankan. Apalagi smartphone baru yang bermunculan tidak membawa fitur baru yang berguna dirasakan konsumen dan harganya pun jadi semakin mahal untuk fitur-fitur terkini.

Sampai saat inipun saya masih bertahan memakai Moto Z Play. belum ada rencana ganti smarpthone. Kalau saya pribadi tidak terlalu memusingkan fitur baru, intinya tidak ada kendala, spesifikasi menengah ke atas atau tas dan harga terjangkau. Kalau mau coba kita bandingkan, Samsung Galaxy S9 itu harganya di atas Rp10 juta dengan OnePlus 3T, justru memori OnePlus 3T ini lebih tinggi dan harganya pun lebih terjangkau. Memang sih, tidak semua konsumen berlaku sama. Untuk saya, lebih ke harga yang terjangkau tapi spesifikasi tidak kalah dengan brand lain yang premium.

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/02/14150087/konsumen-makin-menunda-beli-smartphone-baru

Kamis, 01 Maret 2018

Motorola RAZR Flip Akan Hadir Lagi: Rumornya

Bagi mereka yang pernah memakai ponsel zaman 2004, 2005, entah masa remajanya, masa dewasanya, pasti kenal yang namanya ponsel lipat dari Motorola yang terkenal dengan nama RAZR. Saya juga pernah tahu ponsel itu zaman 2004 dan 2005 meski tidak melihat fisiknya secara langsung. Saya pun masih ingat pernah mengunjungi outlet Motorola di salah satu mal besar di Jakarta waktu 2008, waktu itu yang saya lihat produknya Motorola RAZR MAXX, harganya saya masih ingat, Rp4,2 juta itu. Harganya untuk sekarang sudah dapat Android yang bagus spesifikasinya.

RAZR, nama ikonik ini memang sangat melekat pada ponsel Motorola lipat yang terkenal desain ketipisannya. Om saya juga waktu itu pakai ponsel ini. Saya sendiri penyuka ponsel lipat waktu 2007, 2008. Sayangnya saya waktu itu tidak kesampaian membeli Motorola RAZR series.

Nah, ponsel lipat ikonik ini rumornya akan dibangkitkan kembali. Hal itu didapat dari hasil pertanyaan media di MWC 2018 kepada CEO Lenovo, Yang Yuanqing. Tapi beliau tidak mengiyakan maupun membantah. CEO Lenovo hanya menyampaikan bisa saja dengan teknologi yang semakin berkembang pada layar lipat akan segera terealisasi.

Sebuah video yang diupload di YouTube pada tahun 2016 yang menunjukkan ponsel yang mirip Motorola RAZR sempat membuat orang berpikir bahwa RAZR series akan dihadirkan kembali, tapi nyatanya Motorola membantah hal tersebut. Apakah benar nantinya Motorola RAZR akan dihadirkan kembali seperti Nokia 8110 4G, kita tunggu saja.

Sumber: http://www.tribunnews.com, https://inet.detik.com

Registrasi Ulang SIM card Telah Berakhir: Kesempatan tetap ada

Tenggat waktu yang diberikan pemerintah untuk registrasi ulang telah selesai, 28 Februari 2018. Menurut saya waktu yang diberikan itu sudah cukup bagi pelanggan untuk meregistrasikan ulang kartu SIM operator seluler. Gaung registrasi ulang saja sudah diinfokan sejak Oktober 2017, jadi ada jeda 4 bulan bagi pelanggan untuk mempersiapkan dirinya melakukan registrasi. Nah, kini waktu itu sudah berakhir, tapi jangan khawatir, masih masa terakhir sebelum kartu tersebut benar-benar diblokir total.

Mulai 1 Maret 2018 kartu yang belum registrasi ulang akan mengalami pemblokiran secara bertahap. Pertama tidak akan bisa melakukan panggilan keluar (outgoing call) dan mengirim SMS, tapi masih bsia menerima panggilan masuk (incoming call) dan SMS. Apabila sampai 1 April 2018 belum registrasi juga, maka kartu tersebut mulai menerima pemblokiran terima panggilan masuk dan SMS masuk. Layanan data internet belum diblokir. Akan tetapi apabila, sampai 1 Mei 2018 kartu tersebut tidak diregistrasi juga, maka nomor tersebut akan diblokir total dan itu sama dengan artinya selamanya tidak akan bisa digunakan lagi.

Kita lihat, pemerintah sudah memberikan banyak waktu luang agar pemilik kartu seluler segera meregistrasikan nomornya bila tidak ingin diblokir. Berikut cara-cara meregistrasikan kartu seluler :

1. Telkomsel
Pelanggan baru: REGnomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444
Pelanggan lama ULANGnomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444


2. XL 
Pelanggan baru: DAFTAR#nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444
Pelanggan lama: ULANG#nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444


3. Indosat Ooredoo
Pelanggan baru: nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444
Pelanggan lama ULANG#nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444


4. Tri
Pelanggan baru: nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444
Pelanggan lama ULANG#nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444


5. Smartfren
Pelanggan baru: nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444
Pelanggan lama ULANG#nomor KTP#nomor KK kirim SMS ke 4444


Selain SMS, pengguna juga bisa registrasi melalui website operator seluler masing-masing. Apabila mengalami kendala, pengguna juga bisa datang ke gerai selulernya untuk dibantu registrasi di sana. Jadi, tunggu apalagi. :-)


Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2018/02/28/17070227/1-mei-belum-registrasi-kartu-sim-prabayar-blokir-total, https://tekno.kompas.com/read/2018/02/28/08030057/hari-ini-batas-akhir-registrasi-ulang-kartu-sim-prabayar-begini-caranya

iQOO Z7: Pemakaian 2 Tahun

  Tidak terasa, waktu cepat berlalu, iQOO Z7 kini sudah 2 tahun digunakan. Masih menggunakan temper glass lama dan softcase bening bawaan. D...